Denpasar – Menanggapi berbagai saran dan kritik yang muncul dari masyarakat terkait karya ogoh-ogoh tahun 2025, Ketua Sekaa Teruna Teruni Yowana Saka Bhuwana (STYSB) Banjar Tainsiat bersama konseptor karya, Komang Gde Sentana Putra (Kedux), secara terbuka menyampaikan permohonan maaf melalui unggahan resmi di laman Instagram STYSB.
Pernyataan ini disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab atas karya yang sempat menimbulkan berbagai persepsi di tengah masyarakat, baik yang disampaikan secara langsung maupun melalui media sosial.
Dalam unggahannya, pihak STYSB dan Kedux menegaskan bahwa karya ogoh-ogoh yang mereka buat tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. Mereka menyatakan bahwa tujuan utama dari karya tersebut adalah sebagai media ekspresi seni, budaya, dan edukasi, yang senantiasa disesuaikan dengan nilai-nilai kearifan lokal dan semangat kebersamaan.
“Kami mendengar, memahami, dan menerima semua masukan dari masyarakat dengan hati terbuka. Kami memohon maaf jika dalam proses kreatif kami ada hal yang kurang tepat atau menimbulkan ketidaknyamanan,” tulis Kedux dalam pernyataan yang diunggah.
Ketua STYSB juga menegaskan bahwa karya ogoh-ogoh mereka dibuat dengan semangat menjaga dan melestarikan tradisi Bali, serta mendorong generasi muda untuk tetap aktif berperan dalam kegiatan budaya yang positif.
Langkah permohonan maaf terbuka ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk tokoh adat dan masyarakat setempat, sebagai bentuk kedewasaan dalam berkarya dan bertanggung jawab.
STYSB berharap momen ini menjadi pembelajaran berharga dan akan terus berkomitmen menciptakan karya-karya budaya yang lebih baik, mengedepankan nilai seni, etika, dan keharmonisan di tengah masyarakat.
Dengan klarifikasi ini, diharapkan suasana tetap kondusif, dan semangat gotong royong dalam pelestarian budaya Bali dapat terus terjaga.